Hai malam. Hai langit. Hai
semuanya. Ada yang berbeda malam ini. Malam. Langit. Langit malam. Berbeda karena
takbir.
Malam ini langit terbuka. Mengantar
kumandang keagungan kepada Empunya-Nya.
Malam ini langit sangat bersahaja.
Karena takbir menggema dari seluruh penjuru dunia.
Malam ini bumipun berselimut
bahagia. Karena kebanyakan manusia sedang bersama dengan keluarganya.
Hai semua. Aku menyapa dari bilik
kamarku yang sederhana. Tapi rinduku tidak sesederhana kamarku. Dari kamar ini
pikiranku melalang buana, menembus Seulawah Agam dan Dara. Melintasi hutan
belantara, dan segera sampai ke ‘rumah yang sebenarnya’.
Takbir sudah berkumandang. Aku (masih)
disini malam ini. Tapi aku tidak sendiri. Ditemani (sebenarnya menemani) kakak
tercinta.
Malam ini pertama kali aku
merayakan malam lebaran di kampung orang. Bercampur-campur rasanya. Senang karena
bsok idul adha. Sedih karena tidak ditemani orang tua. Rindu berkumpul bersama.
Menemani dek Tah menyaksikan semaraknya takbir dari mobil yang lewat di depan
rumah. Menunggu timphan dan bolu yang tak kunjung matang walau sudah larut
malam bersama kak yus tersayang. Membuat kesal bang hak karena aku selalu iseng
mengotori lantai yang baru selesai dipel-nya. Rindu bertakbir bersama selesai magrib dan
insya. Malam ini nano-nano rasanya. Bercampur semuanya.
Tiada rindu sehebat rindu dari
perantauan. Ini kalimat, benar-benar tepat untuk malam ini.
Pada takbir malam ini, aku
sampaikan salam takdim untuk orang tersayang di kampung halaman. Aku (dan
kakakku) memang (masih) disini, tapi hati kami disana.
Anita Purnama Sari
Seuramoe mekkah, 9 zulhijjah.
Ditemani takbir, meneguk rindu ,lalu diterbangkan angin ke 'rumah yang sebenarnya'. Berharap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar