Arafah adalah tempat wukuf dilaksanakan. Wukuf adalah inti dari ibadah haji. Setelah selesai khutbah wukuf, dilanjutkan dengan berhenti. Berhenti, berdiam diri. Sambil merenungi.
Arafah adalah mahsyar dalam lingkup kecil. Mahsyar adalah hari ketika semua manusia Allah kumpulkan. Tak terkecuali seorangpun. Tak ada yang boleh izin untuk tidak hadir. Semua manusia akan menanti gilirannya di tempat ini. Dipanggil, lalu dihisap.
Arafah dan mahsyar adalah tempat berkumpul. Semua manusia akan berkumpul dengan izin Allah.
Arafah adalah peringatan. Bahwa hanya ada satu-satunya pertemuan yang perlu dipersiapkan. Yaitu mahsyar.
Mahsyar adalah hari ketika manusia akan menyadari bahwa tak ada pertolongan melainkan dari Nya. Sungguh tak ada pertolongan kecuali hanya untuk beberapa golongan.
Rasul kita pernah bersabda. Ada 7 golongan yang akan mendapat naungan di padang mahsyar. Hanya 7 golongan saja.
Sungguh beruntung bila kita masuk salah satunya. Pemimpin yang adil akan dilindungi. Pun pemuda yang giat ibadahnya. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua manusia yang saling mencintai karena Allah. Ana uhibbuki fillah yang benar-benar dari hati. Manusia yang dalam keheningan, air mata jatuh karena takut taubatnya tak diterima. Manusia yang bersedekah dengan tangan kanannya, sementara tangan yang lain tidak mengetahuinya. Lalu, ada satu lagi. Laki-laki luar biasa keimanannya akan juga Allah lindungi. Laki-laki yang menolak ajakan wanita untuk bermaksiat dengannya. Semoga masih ada laki-laki yang pantas Allah lindungi di zaman ini.
Cukuplah arafah menjadi peringatan untuk sebuah perkumpulan yang maha dahsyat yang perlu kita persiapkan. Perlu persiapan matang supaya tak ada penyesalan. Karena sungguh, jika kita sudah di mahsyar, takkan lagi boleh pulang karena lupa atau sedikit membawa bekal.
Cukuplah. Cukuplah arafah adalah peringatan bahwa mahsyar pasti ada. Mahsyar yang hanya ada 7 golongan yang akan spesial Allah perlakukan, benar adanya. Mari kita sama sama memantaskan diri, supaya kita salah satu dari tujuh itu.
Anita Purnama Sari
Seuramoe Mekkah, 9 zulhijjah 1435 H.
Ketika aku menulis ini, terselip doa semoga tahun depan, di tanggal yang sama dengan hari ini, aku tidak hanya sedang di Seuramoe (red: serambi) mekkah. Semoga tahun depan, jarakku dengan makkah bukan lagi berbatas negara, tapi hanya beberapa kilometer saja. Jika 9 zulhijjah ini aku hanya menulis arafah, semoga 9 zulhijjah ke depan aku sedang di arafah. Semoga Allah berkenan memasukkan namuku dalam daftar tamunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar