Sabtu, 20 Agustus 2016

Satu Orang Teman

Yang ingin aku ceritakan adalah tentang kisah cinta yang teruji waktu dan tentang kesetiaan yang luar biasa.

Ada hal menarik saat aku sedang menjalani koas di stase penyakit dalam. Seperti terlihat di foto, sepasang suami istri yang sudah lanjut usia.

Si istri saat itu sedang di rawar di rumah sakit, hanya bisa berbaring di tempat tidur. Si istri juga mengalami penurunan kesadaran. Adalah seorang suami yang seperti terlihat di foto sedang memberi makan kepada istrinya lewat selang makanan. Foto tersebut diambil jam 2 dini hari. "Saya sedang memberi makanan utuk istri saya nak, besok istri saya akan dioperasi jadi harus puasa mulai jam 3 pagi" begitu alasan si kakek yang belum tidur karena ingin memastikan istrinya tidak kekurangan asupan makanan sedikitpun.

Pernah juga, saat aku sedang jaga malam. Si nenek kondisinya memburuk waktu itu, jadi aku bertugas memantau perkembangan si nenek tiap jam. Malam itu, aku tidak melihat si kakek beranjak dari sisi istrinya sedikitpun. Yang dilakukannya adalah menunggui istrinya sambil mengajaknya berbicara. Tidak peduli istrinya yang mengalami penurunan kesadaran itu mendengar atau tidak. Begitulah cara kakek ini menstranfer kekuatan untuk istrinya.

Diwaktu yang lain, pernah juga aku ingin sekali menjenguk pasien tersebut. Waktu itu jam 4 pagi, menjelang subuh. Aku menemukan si kakek sedang mengaji di telinga istrinya. "Semoga Allah membuat istri saya tabah atas sakitnya ini ya nak" begitu harapan si kakek. Saat itu, si kakek juga bercerita banyak ke aku, tertama tentang kehidupan rumah tangga mereka.

"Sesungguhnya dalam hidup ini kita cuma butuh satu orang teman, Nak. Cukup satu orang teman saja. Teman yang akan setia menemani kita sampai tua, sampai lanjut usia, sampai ajal memisahakan" dengan suara bergetar si kakek menutup ceritanya. Seketika, ada yang ingin tumpah saat itu, air mata.

Pasangan ini tidak memiliki anak dari pernikahan mereka, tapi itu tidak menjadi alasan untuk mereka berpisah, karena satu hal tadi, mereka sudah sama sama berjanji akan menjadi teman sampai lanjut usia.

Rasanya tidak ada yang keliru sedikitpun. Kita memang hanya butuh mencari satu teman saja. Cukup satu saja, yang setia. Yang menerima kita apa adanya. Yang selalu sama-sama sampai kapan pun, dalam kondisi apapun.

Banda Aceh, 17 Agustus 2016
Selamat merayakan kemerdekaan, mari selipkan doa untuk pasangan luar biasa ini. Semoga kita bisa belajar mengartikan cinta dalam sudut pandang yang berbeda.

Yang masih mencari, semoga segera menemukan 'satu orang teman'-nya ya :)

Jumat, 24 Juli 2015

Tulisan : Menahan diri

Mari aku kasih tau padamu tentang suatu ilmu. Ilmu ini tentulah bukan ilmu baru, kita sudah pernah sama-sama mempelajari. Hanya saja sangat sulit untuk kita aplikasi.

Ilmu ini tentang ketidaksingkronan hati, pikiran dan tindakan kita. Tentang ketidakselarasan isi hati dan otak kita. Dalam satu waktu.

Mari aku sederhankan, agar kita sama-sama mudah mengerti.

Waktu kecil dulu, kita bebas bermain dengan siapa saja. Bebas menyukai atau membenci apa saja. Hampir semua hal yang kita inginkan, terpenuhi.

Sekarang kita sudah sama-sama (mulai) dewasa. Ada beberapa hal yang tidak sama lagi. Ada juga yang mulai berubah, selain fisik yang tentunya semakin besar dan tinggi.

Harusnya kita menyadari kalau kita sudah (mulai) dewasa. Ada tindakan yang harus kita pertimbangkan matang-matang. Ada tanggung jawab yang harus kita pikul untuk tiap keputusan.

Biar aku pastikan sekali lagi. Kita sudah sama-sama (mulai) dewasa kan ? Harusnya kita mulai menyadari, bahwa sekarang ada yang tidak lagi sama antara dulu, sekarang dan ketika nanti. Harusnya kita paham, orang dewasa sering sekali melibatkan HATI.

Ya, hati. Hati-hati lah kalau kita sudah melibatkan hati.

Harusnya saat kita sudah melibatkan hati, kita juga harus sama-sama pandai menahan diri. Jikalah hatimu sangat mencintai sesuatu (juga seseorang), perasaanmu pun ingin sekali diutarakan, sedang kamu tau tindakan-mu akan merubah beberapa hal. Ada yang harus dipertimbangkan matang-matang, tentang kesiapan dirimu, tentang kesiapan mu memikul tanggung jawab atas tindak-mu.

Karena rindu, jika tidak kita tutupi, pastilah rasanya jadi basi, maka menahan diri-lah !
Karena menyayangi antar sesama kita diwajibkan dalam agama, tapi perasaan kita malah memberi kadar yang berbeda-beda, maka menahan diri-lah !
Karena mencintai adalah fitrahnya hati, maka berhati-hatilah, bedakan  kapan dan mana yang mesti dan tidak semestinya diutarakan, maka menahan diri-lah !

Menahan diri-lah sampai waktu yang Tuhan kehendaki. Agar kita sama-sama terjaga. Dan semoga Tuhan-kita juga menjaga.

Tentang ilmu menahan diri, semoga saja kita sama-sama mengerti.

Tanoh kuta raja, Aceh, 24 juli 2015
Anita Purnama Sari

More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com

Senin, 26 Januari 2015

Tulisan : Secangkir Rindu

Kuteguk secangkir rindu. Buru buru.
Sebelum panasnya menguap.
Tak kubiarkan rindu ini tak sehangat dulu.

Begini caraku menikmati rindu.
Ditiap penghujung hari.
Saat malaikat berganti tugas di bumi.

Kuteguk rindu ini perlahan. Pelan-pelan.
Hingga malam.
Sampai padang bulan sempurna tepat di atas kepalaku.

Ditemani secangkir rindu, hingga pagi.
Sampai malaikat turun lagi ke bumi.
Sampai-sampai air jatuh setetes di ujung kelopaknya mata, aku masih saja mengunggui cangkir ini habis isinya.
Cepat-cepat aku mengelap air itu.
Aku tak mau rinduku berubah rasa.
Jangan sampai hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Ini gara- gara secangkir rindu.
Aku menunggui rindu ini dari panas mendidih sampai jadi beku seperti ini.
Aku belum selesai menghabiskan secangkir rindu, sebelum ia benar- benar beku.
Aku rindu meneguk secangkir rindu bersamamu.
Suatu saat. Nanti.

Anita Purnama Sari
Banda Aceh. Januari 2015.
More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com/ or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com/

Rabu, 14 Januari 2015

Ucapan : Terimakasih Untuk Seperlima Abat (1)

Tulisan ini awalnya tidak bermaksud untuk dibagikan di sosial media, tidak ingin menjadi konsumsi publik. Tapi setelah mempertimbangkan satu dan lain hal akhirnya ya ‘Silakan dinikmati’.
---
Tulisan ini spesial untuk orang spesial dalam seperlima abat hidupku.

Seperlima abat yang lalu aku hanya seorang bayi yang cara berkomunikasiku hanya dengan menangis. Tapi ada satu wanita luar biasa, yang tau maksud dari tiap nada tangisanku. Wanita ini bisa membedakan mana tangisan kelaparan dan yang mana tangisan ketidaknyamanan karena mungkin popokku sudah penuh.

Selama seperlima abat berlalu. Ada sosok wanita mulia yang mendampingi tumbuh kembangku. Menemaniku saat aku belajar merangkak, berdiri, lalu berlari. Wanita ini tak pernah tidak ada dalam setiap jatuhku. Tangannya selalu saja mengajakku bangkit setiap kali jatuh.

Sudah seperlima abat aku dirawatnya. Ya, aku tidak salah. Memang saat masuk asrama di sekolah menegah atas, aku memang tidak disampingnya. Tapi tiap saat dia memastikan kondisiku. Anggap saja tangan lembutnya mampu menjagaku bahkan saat aku tidak di sampingnya sekalipun. Bahkan, saat sekarang aku tengah menuntut ilmu di kota yang berbeda dengannya, aku tetap saja diawasinya dengan caranya.

Bayi kecilmu dulu, kini sudah tumbuh dewasa mak.
Hari ini dia genap berumur seperlima abat.

Bayi mungilmu dulu, kini tumbuh menjadi gadis mak.
Gadis cantik yang selalu berusaha hatinya lebih cantik dari wajahnya.

Sudah seperlima abat Tuhan menitipkannku pada seorang wanita istimewa.
Wanita ini tidak pernah belajar menjadi orang tua, tapi dia berhasil menjadi mamak luar biasa untukku.

Dalam seperlima abat hidupku, ada wanita yang kesetiaannya tak ada tandingannya di dunia.
Bahunya selalu ada untukku bersandar.
Pangkuannya lebih nyaman dan sangat menenangkan.
Pelukannya tak perlu berbicara banyak, mampu membuat hati ini tenang.
Tatapan matanya sangat sendu untuk mengobati rindu yang tak menentu.

Untuk wanita mulia nan luar biasa, yang kupanggil dengan sebutan MAMAK.
Gadismu yang (berusaha) tumbuh dewasa, kini genap berusia seperlima abat. Hari ini dia berbagi cerita, bahwa ada wanita luar biasa yang membersamai usia dua puluhannya.

Gadismu, Anita Purnama Sari
Ditulis di Banda Aceh. 17 desember 2014.
More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com/ or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com/

Selasa, 11 November 2014

Tulisan : Jenuh




Jenuh itu seperti jemu. Semoga saja cepat berlalu.
Jenuh itu seperti malas. Terasa berat mengerjakan ini itu.
Jenuh itu seperti merindui ‘kamu’. Mau melakukan apapun tidak bersemangat selain ‘kamu’.

Jika kau sedang mengejar. Jenuh itu butuh berhenti sebentar.
Jika kau terlalu sibuk menata hari esok. Malam nanti mungkin kau perlu menyiriput teh ataupun secangkir kopi.
Jika kau sedang terlalu sibuk mempersiapkan sesuatu . Jenuh tak jarang menyapamu.

Setiap kita pernah jenuh.
Jika kau penulis, pasti kau pernah merasa menyebalkan sekali dengan huruf. Bukan membencinya. Hanya saja jenuh dengan kata yang dibentuk olehnya.
Jika kau sedang belajar, pasti sekali saja  kau pernah merasa ingin melempar semua buku. Bukan membenci ilmu. Hanya saja kau lagi kesal dengan lembar-lembar yang dijilid jadi satu itu.

Aku juga seperti itu.
Jenuh sedang menyapaku. Saat ini, saat aku sedang menulis kalimat-kalimat ini.
Aku jenuh dengan kalimat, tapi jenuh itu seperti kalimat.
Kalimatku barusan ada ‘koma’ kan ?
Tidak setiap kalimat butuh ‘koma’. Tapi ada kalanya ia akan rancu kalau tak kuletakkan pada tempatnya.
‘Koma’ itu hanya jeda.
Jenuh itu butuh jeda.
‘Koma’ itu bukan ‘titik’.
Jenuh itu bukan akhir.
Aku hanya perlu jeda sebentar saja.
Aku janji tidak akan lama-lama.

Anita Purnama Sari
Banda Aceh. Satu hari setelah hari pahlawan, 2014.
Saat jenuh menyapa.
More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com/ or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com/

Rabu, 29 Oktober 2014

Tulisan : Suatu Hari Nanti, Akan Ada.

Suatu hari nanti, akan ada yang membuat mu benar benar jatuh cinta. Tanpa di buat buat. Tanpa alasan. Karena kamu memang mempercayainya.

Suatu hari nanti, akan ada yang membuatmu benar benar jatuh cinta. Tanpa rasa ingin pamer pada teman temanmu.

Suatu hari nanti akan ada yang membuatmu benar benar jatuh cinta. Bukan karena malu, ketika teman mu bercerita tentang pacarnya, kamu tak punya. Bukan karena itu.

Suatu hari nanti akan ada yang membuatmu benar benar jatuh cinta. Bukan hanya sekedar untuk pamer kemesraan di sosial media. Bukan juga karena itu.

Suatu hari nanti akan ada yang membuatmu benar benar jatuh cinta. Bukan hanya rasa kagum sesaat. Bukan pula rasa sayang yang di buat-buat.

Suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan yang akan membuatmu jatuh cinta tanpa alasan. Tanpa rasa takut jika setiap omongannya  adalah omong kosong. Tanpa rasa takut jika suatu hari nanti dia akan mematahkan hatimu. Tanpa rasa takut. Karena kamu mempercayainya.

Suatu hari nanti, akan ada yang datang padamu menawarkan separuh hidupnya. Untuk kamu jaga hati dan marwahnya. Untuk kamu jaga harta benda nya. Denga  rasa saling percaya. Tanpa ada terpikir sedikitpun jika diluar sana akan ada yang lebih baik darinya. Kamu akan memilih. Bersamanya.

Suatu hari nanti, kamu akan jatuh cinta pada seseorang. Pada yang akan kamu beri kepercayaan tanpa ragu. Pada seseorang yang akan kamu titipkan separuh agamamu pada nya.

Anita Purnama Sari
Aceh, 29 oktober 2014

More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com/ or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com

Sabtu, 04 Oktober 2014

Tulisan : Takbir sudah berkumandang. Aku (masih) disini.


Hai malam. Hai langit. Hai semuanya. Ada yang berbeda malam ini. Malam. Langit. Langit malam. Berbeda karena takbir.

Malam ini langit terbuka. Mengantar kumandang keagungan kepada Empunya-Nya.

Malam ini langit sangat bersahaja. Karena takbir menggema dari seluruh penjuru dunia.

Malam ini bumipun berselimut bahagia. Karena kebanyakan manusia sedang bersama dengan keluarganya.

Hai semua. Aku menyapa dari bilik kamarku yang sederhana. Tapi rinduku tidak sesederhana kamarku. Dari kamar ini pikiranku melalang buana, menembus Seulawah Agam dan Dara. Melintasi hutan belantara, dan segera sampai ke ‘rumah yang sebenarnya’.

Takbir sudah berkumandang. Aku (masih) disini malam ini. Tapi aku tidak sendiri. Ditemani (sebenarnya menemani) kakak tercinta.

Malam ini pertama kali aku merayakan malam lebaran di kampung orang. Bercampur-campur rasanya. Senang karena bsok idul adha. Sedih karena tidak ditemani orang tua. Rindu berkumpul bersama. Menemani dek Tah menyaksikan semaraknya takbir dari mobil yang lewat di depan rumah. Menunggu timphan dan bolu yang tak kunjung matang walau sudah larut malam bersama kak yus tersayang. Membuat kesal bang hak karena aku selalu iseng mengotori lantai yang baru selesai dipel-nya.  Rindu bertakbir bersama selesai magrib dan insya. Malam ini nano-nano rasanya. Bercampur semuanya.

Tiada rindu sehebat rindu dari perantauan. Ini kalimat, benar-benar tepat untuk malam ini.

Pada takbir malam ini, aku sampaikan salam takdim untuk orang tersayang di kampung halaman. Aku (dan kakakku) memang (masih) disini, tapi hati kami disana.

Anita Purnama Sari
Seuramoe mekkah, 9 zulhijjah.
Ditemani takbir, meneguk rindu ,lalu diterbangkan angin ke 'rumah yang sebenarnya'. Berharap.