Jumat, 24 Juli 2015

Tulisan : Menahan diri

Mari aku kasih tau padamu tentang suatu ilmu. Ilmu ini tentulah bukan ilmu baru, kita sudah pernah sama-sama mempelajari. Hanya saja sangat sulit untuk kita aplikasi.

Ilmu ini tentang ketidaksingkronan hati, pikiran dan tindakan kita. Tentang ketidakselarasan isi hati dan otak kita. Dalam satu waktu.

Mari aku sederhankan, agar kita sama-sama mudah mengerti.

Waktu kecil dulu, kita bebas bermain dengan siapa saja. Bebas menyukai atau membenci apa saja. Hampir semua hal yang kita inginkan, terpenuhi.

Sekarang kita sudah sama-sama (mulai) dewasa. Ada beberapa hal yang tidak sama lagi. Ada juga yang mulai berubah, selain fisik yang tentunya semakin besar dan tinggi.

Harusnya kita menyadari kalau kita sudah (mulai) dewasa. Ada tindakan yang harus kita pertimbangkan matang-matang. Ada tanggung jawab yang harus kita pikul untuk tiap keputusan.

Biar aku pastikan sekali lagi. Kita sudah sama-sama (mulai) dewasa kan ? Harusnya kita mulai menyadari, bahwa sekarang ada yang tidak lagi sama antara dulu, sekarang dan ketika nanti. Harusnya kita paham, orang dewasa sering sekali melibatkan HATI.

Ya, hati. Hati-hati lah kalau kita sudah melibatkan hati.

Harusnya saat kita sudah melibatkan hati, kita juga harus sama-sama pandai menahan diri. Jikalah hatimu sangat mencintai sesuatu (juga seseorang), perasaanmu pun ingin sekali diutarakan, sedang kamu tau tindakan-mu akan merubah beberapa hal. Ada yang harus dipertimbangkan matang-matang, tentang kesiapan dirimu, tentang kesiapan mu memikul tanggung jawab atas tindak-mu.

Karena rindu, jika tidak kita tutupi, pastilah rasanya jadi basi, maka menahan diri-lah !
Karena menyayangi antar sesama kita diwajibkan dalam agama, tapi perasaan kita malah memberi kadar yang berbeda-beda, maka menahan diri-lah !
Karena mencintai adalah fitrahnya hati, maka berhati-hatilah, bedakan  kapan dan mana yang mesti dan tidak semestinya diutarakan, maka menahan diri-lah !

Menahan diri-lah sampai waktu yang Tuhan kehendaki. Agar kita sama-sama terjaga. Dan semoga Tuhan-kita juga menjaga.

Tentang ilmu menahan diri, semoga saja kita sama-sama mengerti.

Tanoh kuta raja, Aceh, 24 juli 2015
Anita Purnama Sari

More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com

Senin, 26 Januari 2015

Tulisan : Secangkir Rindu

Kuteguk secangkir rindu. Buru buru.
Sebelum panasnya menguap.
Tak kubiarkan rindu ini tak sehangat dulu.

Begini caraku menikmati rindu.
Ditiap penghujung hari.
Saat malaikat berganti tugas di bumi.

Kuteguk rindu ini perlahan. Pelan-pelan.
Hingga malam.
Sampai padang bulan sempurna tepat di atas kepalaku.

Ditemani secangkir rindu, hingga pagi.
Sampai malaikat turun lagi ke bumi.
Sampai-sampai air jatuh setetes di ujung kelopaknya mata, aku masih saja mengunggui cangkir ini habis isinya.
Cepat-cepat aku mengelap air itu.
Aku tak mau rinduku berubah rasa.
Jangan sampai hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Ini gara- gara secangkir rindu.
Aku menunggui rindu ini dari panas mendidih sampai jadi beku seperti ini.
Aku belum selesai menghabiskan secangkir rindu, sebelum ia benar- benar beku.
Aku rindu meneguk secangkir rindu bersamamu.
Suatu saat. Nanti.

Anita Purnama Sari
Banda Aceh. Januari 2015.
More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com/ or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com/

Rabu, 14 Januari 2015

Ucapan : Terimakasih Untuk Seperlima Abat (1)

Tulisan ini awalnya tidak bermaksud untuk dibagikan di sosial media, tidak ingin menjadi konsumsi publik. Tapi setelah mempertimbangkan satu dan lain hal akhirnya ya ‘Silakan dinikmati’.
---
Tulisan ini spesial untuk orang spesial dalam seperlima abat hidupku.

Seperlima abat yang lalu aku hanya seorang bayi yang cara berkomunikasiku hanya dengan menangis. Tapi ada satu wanita luar biasa, yang tau maksud dari tiap nada tangisanku. Wanita ini bisa membedakan mana tangisan kelaparan dan yang mana tangisan ketidaknyamanan karena mungkin popokku sudah penuh.

Selama seperlima abat berlalu. Ada sosok wanita mulia yang mendampingi tumbuh kembangku. Menemaniku saat aku belajar merangkak, berdiri, lalu berlari. Wanita ini tak pernah tidak ada dalam setiap jatuhku. Tangannya selalu saja mengajakku bangkit setiap kali jatuh.

Sudah seperlima abat aku dirawatnya. Ya, aku tidak salah. Memang saat masuk asrama di sekolah menegah atas, aku memang tidak disampingnya. Tapi tiap saat dia memastikan kondisiku. Anggap saja tangan lembutnya mampu menjagaku bahkan saat aku tidak di sampingnya sekalipun. Bahkan, saat sekarang aku tengah menuntut ilmu di kota yang berbeda dengannya, aku tetap saja diawasinya dengan caranya.

Bayi kecilmu dulu, kini sudah tumbuh dewasa mak.
Hari ini dia genap berumur seperlima abat.

Bayi mungilmu dulu, kini tumbuh menjadi gadis mak.
Gadis cantik yang selalu berusaha hatinya lebih cantik dari wajahnya.

Sudah seperlima abat Tuhan menitipkannku pada seorang wanita istimewa.
Wanita ini tidak pernah belajar menjadi orang tua, tapi dia berhasil menjadi mamak luar biasa untukku.

Dalam seperlima abat hidupku, ada wanita yang kesetiaannya tak ada tandingannya di dunia.
Bahunya selalu ada untukku bersandar.
Pangkuannya lebih nyaman dan sangat menenangkan.
Pelukannya tak perlu berbicara banyak, mampu membuat hati ini tenang.
Tatapan matanya sangat sendu untuk mengobati rindu yang tak menentu.

Untuk wanita mulia nan luar biasa, yang kupanggil dengan sebutan MAMAK.
Gadismu yang (berusaha) tumbuh dewasa, kini genap berusia seperlima abat. Hari ini dia berbagi cerita, bahwa ada wanita luar biasa yang membersamai usia dua puluhannya.

Gadismu, Anita Purnama Sari
Ditulis di Banda Aceh. 17 desember 2014.
More post http://anitapurnamasaribintiamir.blogspot.com/ or http://anitapurnamasaribintiamir.tumblr.com/